Saya memang nggak doyan kambing, padahal dua tahun sebelumnya doyan lho makan kambing. Saya kecenthok nggak doyan makan kambing, gara-garanya disuguhi gule kambing. Eh…pas dimakan baunya prengus menusuk hidung. Nah sejak itu saya nggak doyan daging kambing.

Biar nggak suka, tapi kalau diundang yoo mesti datang tho! Minggu lalu, saya dan Anton diundang sebuah resto untuk mengincipi gule kambing, dan sop kaki kambing. Dua menu ini katanya jagoan. Kata ownernya, sop kaki kambingnya, lebih enak daripada kaki kambing di Simolawang yang terkenal itu. Hebatnya dari ceritanya saja sudah membuat saya mak kemecer.
“
Saya yang nggak doyan kambing agak tergoyahkan. Soalnya si owner ini kalau cerita gayanya kayak pembawa acara premium call yang nongol tengah malam itu.
“Sop kambingnya bebas prengus, harus nyoba, ya. Enak, nendang, mak nyoss, wak joss !” *Hihihi… gayanya boleh deh.
Setelah ngobrol, tibalah acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu pesanan datang. Terhidanglah sebuah panci kecil beserta pemanasnya. Disusul kemudian dua piring nasi, jeruk dan sambal. Dan pas dibuka….. wusssssssssssszzzzzzz. Wadoh aroma prengus daging kambing langsung tercium.
“Hiyekkkk…kok mambu embek!” Saya menyembunyikan raut wajah saya yang eneg berat. Ternyata reaksi Anton sama.
“Ih.. kok mambune nemen yo!” katanya bisik-bisik.
“Yo maklumlah ton, kambing khan ketiaknya empat. Wajar lek mambu!” hibur saya
Saya akali dengan perasan jeruk dan kecap. Syukurlah sedikit mengusir bau itu. Tak lama ownernya datang, dengan senyum mengembang dan mata berbinar-binar. Menanti komentar saya.
“Aha…gimana-gimana enak khan? Kok nggak habis?” katanya menatap saya.
“Eh..saya nggak begitu doyan kambing, nih. Pak. Coba tanya Anton saja!” *melempar tanggung jawab ke Anton.
“Ehmm…lumayan, Pak!” Jawab Anton pendek.
Ownernya terlihat senang. “Ayo tambah lagi ya?”
“Hemm… jangan Pak. Maklum lagi program diet ketat nih!” *ngeles.
“Hahahaha… becanda ya pasti. Hahahaha…. Khan susah tuh ngurusin!”* katanya nggak bisa nahan tawa.*ngenyek iki
“Ya udah, kalau gitu biar Anton saja yang menghabiskan, Pak!”
“Oh iya..iya, kasihan ini temannya. Badannya kecil sekali!” katanya prihatin.
Tak lama si owner ini datang membawa satu panci lagi sop kaki kambing.
“Mbak piye iki, sapa yang menghabisi sop’e ?” tanya Anton bisik-bisik.
“


